Menguak 'Kembali' Potret Sejarah Kerajaan Selimbau

Budaya  KAMIS, 28 NOVEMBER 2019 , 19:28:00 WIB | LAPORAN: BENY KAWISTORO

Menguak 'Kembali' Potret Sejarah Kerajaan Selimbau

Foto/RMOLKalbar

RMOLKalbar. Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Kapuas Hulu bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Tanjungpura Pontianak menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang Sejarah Kerajaan Selimbau di Hotel Merpati, Pontianak, Kamis siang (28/11).
FGD ini menghadirkan tamu undangan dari berbagai kalangan akademisi, serta bertindak sebagai pemateri, Ketua Tim Peneliti, yakni Dr. Ir. Ahmad Tohardi, M.M., dengan anggota tim, diantaranya Dr. H. Arifin, S.Sos., M.A.B., Ir. Marjoko Purnomosidi, M.Si., Supriyono, S.E dan Ade Putra.

Mengawali pemaparannya, Ahmad Tohardi menyatakan bahwa FGD ini yang membedakan beberapa tulisan, sekilas tidak ada bedanya, tapi disini akan saya sampaikan terkait proses penelitian secara ilmiah.

"Ini masuk ke penelitian sejarah, kita hanya memotret kisah-kisah sejarah masa lalu, sebagai refleksi untuk kedepannya. Barangkali sebagai pengingat terhadap sejarah yang pernah terjadi, serta korelasinya dengan masa kini," ujarnya.

Menurutnya, sejarah jika tidak dibukukan secara ilmiah, dan narsum semakin sulit ditemukan, maka akan sulit pula untuk mengungkapkan sejarah seterusnya.

"Ini penelitian kedua. Direncanakan untuk diterbitkan, namun masih dalam tahapan editing. Insyaallah tahun depan sudah bisa dicetak," bebernya.

Ahmad Tohardi mengatakan, Kerajaan Selimbau merupakan kerajaan tertua di Kapuas Hulu, bahkan bisa jadi Tertua di Kalimantan Barat.

"Jumlah Raja Selimbau yang terdata, sekitar 25 raja," sebutnya.

Ahmad Tohardi menerangkan bahwa penelitian sejarah ini agak unik dibanding metode penelitian lain, terutama pada pemilihan topik terkait kemanfaatan dari penelitian yang dimaksud.

"Hasil penelitian ini berpotensi menjadi acuan dari aspek pariwisata daerah setempat dan bisa dimasukkan sebagai Mata Pelajaran Muatan Lokal (Mulok) pada sekolah-sekolah di berbagai jenjang pendidikan," ungkapnya.

Ahmad Tohardi menyebut, beberapa sumber yang pernah terbit, baik cetak maupun online di media sosial, masih saja ada kekeliruan dalam penyampaian sejarahnya.

"Stressing kami adalah keturunan dari Raja ke-25 yang sampai saat ini masih belum dibukukan. Untuk bukti-bukti sejarah pendukung, sudah kami kumpulkan data dan inventarisasi fisik sejarahnya. Rencana Bupati, (bangunan masjid) akan dibongkar kembali ke bentuk aslinya," tuturnya.

Ahmad Tohardi berharap pihaknya dapat mendesain ulang duplikasi bangunan keraton, berdasarkan data gambar dan pendukung lainnya yang dimiliki. Data primer berupa data wawancara, melalui narsum yang sebagai keturunan asli raja Selimbau, yang juga memiliki berbagai macam artefak peninggalan kerajaan selimbau.

"Interpretasi makna sejarah dari Kerajaan Selimbau akan kita buat sedemikian rupa, sehingga dapat dijadikan bukti sejarah yang autentik, berupa buku. Alhamdulillah, Bappeda mendukung riset kami yang kedua ini," pungkasnya. [ben]


Komentar Pembaca
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00