Tradisi Bubur 'Merah Putih' Di Bulan Safar

Budaya  RABU, 02 OKTOBER 2019 , 10:29:00 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD ROKIB

Tradisi Bubur 'Merah Putih' Di Bulan Safar

Bubur Merah Putih/RMOLKalbar

RMOLKalbar. 'Tacin Merah', sebutan dari bahasa maduranya, sedangkan menurut Bahasa Indonesia yakni 'Bubur Merah', merupakan tradisi yang dilakukan oleh etnis madura di setiap Bulan Safar, berdasarkan kalender Hijriyah.
Bulan Safar kali ini, bertepatan pada bulan Oktober 2019. Sebagaimana tradisi bubur merah-putih, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, yaitu jatuh pada tanggal 1 Oktober 2019, yang kebetulan juga bertepatan pada tanggal 1 Safar 1441 Hijriah, Selasa (1/10).

Tentunya, tradisi ini dilaksanakan di sepanjang Bulan Safar, dari awal sampai akhir.

Pada tradisi ini, masyarakat, terutama di pedesaan, sangat antusias untuk melaksanakannya, karena tradisi tersebut sudah dilakukan turun temurun dari nenek moyang mereka.

Menurut, Sa'ur, S.Sos., selaku Sekretaris Desa Sungai Enau mengatakan bahwa tidak hanya tradisi bubur merah-putih saja pada bulan itu, akan tetapi juga diselingi dengan berbagai ibadah guna untuk keselamatan dunia maupun akhirat. Seperti halnya melakukan doa bersama pada setiap rumah yang sistemnya bergiliran antar rumah ke rumah.

"Doa-doa yg dibacakan antara lain: tawassul, al-fatihah, sholawat nabi, kalimat-kalimat toyyibah dan diakhiri doa penutup. Semua itu di peruntukkan bagi keluarga, kerabat dn satu kampung yang sudah meninggal agar amal inadahnya di terima oleh Allah dan juga doa keselamatan bagi keluarga, kerabat dan 1 kampung agar dihindarkan dari segala penyakit atau pun segala musibah yang akan datang," jelasnya.

Bubur merah-putih itu sendiri, lanjut Sa'ur, juga menjadi pertanda akan datangnya bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, karena setalah bulan safar akan memasuki bulan Maulid.

"Tradisi yang relejius ini merupan hal yang di tunjukkan dengan sikap keagamaan yang sangat tinggi bagi etnis madura," bebernya.

Seusai melaksanakan doa bersama, dari rumah kerumah warga ataupun masyarakat setempat mulai melakukan kebiasaannya, yaitu dengan membagi-bagikan bubur merah-putihnya kepada tetangga sebagai bentuk shadaqah dan salamatan dari warga itu sendiri.

Dengan demikian, Sa'ur mewakili dari aparatur pemerintah Desa mengharapkan agar tradisi tersebut terus berjalan. Karena Ia menilai dari tradisi tersebut menghadirkan nilai-nilai keagamaan yang tinggi bagi masyarakat pedesaan.

"Harapan saya, tradisi ini dilanjutkan terus menerus karena sangat positif bagi nilai keagamaan masyarakat. Dengan seperti ini akan menunjukan karakter masyarakat yang penuh nilai keagamaan," tukasnya. [ben]


Komentar Pembaca
Tiru Cara BG, Siasat Imam Nahrawi Lolos dari KPK

Tiru Cara BG, Siasat Imam Nahrawi Lolos dari KPK

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 23:19:03

Lomba Pacu Jalur Peserta Terbanyak

Lomba Pacu Jalur Peserta Terbanyak

SABTU, 19 OKTOBER 2019 , 14:31:46

Prabowo Tawarkan Pertumbuhan Ekonomi Double Digit

Prabowo Tawarkan Pertumbuhan Ekonomi Double Digit

KAMIS, 17 OKTOBER 2019 , 22:28:40

Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00