Bulan Muharram Sebagai Salah Satu Dari 4 Bulan Istimewa

Opini  JUM'AT, 06 SEPTEMBER 2019 , 11:34:00 WIB

Bulan Muharram Sebagai Salah Satu Dari 4 Bulan Istimewa

Gus Ainun Najib

RMOLKalbar. Momen tahun Baru Islam adalah tahun mulia bagi umat islam karena didalamnya banyak sejarah yang membuktikannya. Namun banyak yang bertanya-tanya adalah tentang apa keistimewaan bulan Muharram.
Lalu, tradisi apa saja yang dilakukan oleh Umat Islam pada bulan Muharram? Selain itu, apa saja yang harus dilakukan oleh Umat Islam?

Menanggapi hal tersebut, dalam artikel ini akan dijelaskan terkait Tahun Baru Islam yang bertepatan pada bulan muharram.

Bulan muharram adalah salah satu dari empat bulan yang oleh Allah SWT dimulihakan. Sebagaimana Allah Berfirman dalam Al-Qur'an, yang artinya;

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa," (QS. At-Taubah: 36).

Dari ayat tersebut, diterangkan bahwa dua belas bulan dari satu tahun ada bulan muharram yang jumlahnya empat yang kebetulan awal tahun dari pada tahun hijriyah disebut dengan bulan muharram. Kemudian menurutnya, tahun baru hijriyah atau tahun baru islam merupakan suatu keniscayaan.

Selain itu, apa yang menjadikan bulan muharram itu menjadi istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain?

Tentu dalam hal itu tidak lepas dari firman Allah. Yang telah sebutkan di Atas 'Yakhluku ma yasya uwayakhtar', bahwa Allah yang menciptakan, Allah pula yang memilih dan memilah. Jadi ketika Allah menciptakan alam semesta atau makhluk secara umum ini. Maka ada alam dan jenis makhluk tertentu yang oleh Allah SWT dipilih menjadi lebih utama ketimbang yang lain. Tentu bulan muharram mulia, karena ada sejarah didalamnya diantaranya; dulu di zaman jahiliyah perang islam orang-orang jahiliyah memuliakan empat bulan ini yaitu bulan Dhulqo'dah, bulan dhulhijjah, bulan Muharram dan bulan Rajab. Empat bulan ini oleh islam kemudian dimuliakan.

Di dalam ilmu Tafsir sosiologi itu dijelaskan, bahwa Ada paraktik-praktek yang pra islam yang kemudian oleh islam dilanjutkan dan kemudian praktik-praktik atau budaya pra islam itu kemudian dirubah total ketika Islam datang. Seperti perbudakan. Kemudian setelah islam datang, maka dihapus total.

Selanjutnya, ada budaya yang ketika islam datang di modifikasi, maka menyikapi tentang keutamaan  syahrul haram ini atau bulan muharram adalah tradisi pra islam yang kemudian dilanjutkan oleh islam. Karena orang-orang jahiliyah terdahulu ketika bulan muharram tiba, mereka akan berhenti mengadakan peperangan. Bahkan jikalau ketemu dengan orang yang pernah membunuh orang tuanya. Maka dalam bulan muharram mereka layaknya saudara. Alasannya karena menghormati bulan muharram.

Ketika islam datang Islam menghormati bulan muharram juga, walaupun menurut kisah-kisah Isarah Iliyat, seperti kejadian pada Nabi terdahulu. Misalnya yang banjir melanda negerinya sehingga banyak yang meninggal. Banyak ulama mengatakan melalui kisah Isarah Iliyat itu terjadi pada bulan Muharram atau Nabi musa dan Nabi Fir'aun lalu ditancapkanlah tongkat Nabi Musa sehingga terbelahlah lautan itu dan menenggelamkan Fir'aun Laknatullah itu. Itupun ada kisah Isarah Iliyat yang mengatakan, bahwa kisah tersebut terjadi bertepatan dengan bulan Muharram.

Dari kisah tersebut sehingga bulan Muharram memiliki historis yang jelas, memiliki ikatan dengan orang-orang terdahulu sehingga islam tetap memuliakannya.

Lalu kemudian berapa lamakah kemuliaan/Keistimewaan pada bulan Muharram?

Banyak yang beranggapan bahwa hanya pada tanggal 1 sampai 10 Muharram saja yang istimewa.

Bulan Muharram dimuliakan oleh islam, satu bulan penuh berarti tidak dibatasi tanggal 1 sampai tanggal 10, tetapi semua dari tanggal satu sampai satu bulan itu dimuliakan oleh Allah.

Kemudian, tradisi apa yang dilakukan oleh umat islam pada bulan Muharram?

Tradisi yang dilakukan oleh umat islam di bulan Muharram ialah, Ada doa-doa tertentu yang diajarkan oleh islam ketika akhir tahun Hijriyah dan di awal tahun tahun Hijriyah yang bertepatan dengan  bulan Muharram. Sehingga islam mengajarkan kepada kita semua untuk berdoa pada akhir dan awal tahun Hijriyah. Bukan dengan berpoyah poyah. Itu sebenarnya yang lebih dilakukan.

Bahkan disebutkan didalam hadist. Bahwa suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah berpuasa di akhir bulan Dhulhijjah dan di awal bulan Muharram. Kemudian yang kedua Nabi Muhammad berpuasa mengawali awal tahun dengan berturut-turut.

Tradisi yang perlu dipahami oleh umat islam adalah puasa diakhir Dhulhijjah dan diawal bulan Muharram. Kemudian yang kedua memperbanyak berdoa di akhir tahun dan kemdian diawal tahun. Dengan demikian menurutnya, apabila misalnya ada budaya lain terserah, seperti ada obor-obor, ada shalawat dan banyak hal lain yang dilakukannya. Meskipun belum ada keterangan yang jelas. Akan tetapi yang jelas dalam kitab 'Kanzunnajah Wassurur', bahwa kita dianjurkan memperbanyak doa dan melaksanakan puasa.

Jika awal tahun diawali dengan kebaikan, maka In Syaa Allah satu tahun yang akan dihadapi akan menjadi lebih baik, karena diawali dengan kebaikan.
Walaupun ada yang menjelaskan bahwa di awal tahun itulah sebenarnya. 'Yauma Khalaqassama Watiwal Ard' bahwa Allah menentukan takdirnya kepada manusia, jadi kalau kita awali dengan baik. In syaa Allah. Allah akan mentakdirkan kita untuk tahun yang akan dihadapi menjadi tahun yang baik dari segala aktifitas kita.

Selanjutnya, sebagai umat Islam terutama bagi generasi muda hal apa yang harus dilakukan di bulan mulia tersebut?

Menjawab pertanyaan tersebut, yang pertama adalah kesadaran diri, lebih baik kesadaran diri mengawali awal tahun Hijriah dengan doa puasa dan amal-amal agar ibadah yang dilaksanakan diterima oleh Allah SWT.

Kedua, generasi muda harus sadar bahwa kita harus lebih baik dari pada tahun sebelumnya. Karena cerita ini mengajarkan kita untuk lebih baik. Kita sadar bahwa semakin hari kita seharusnya semakin baik, bukan sebaliknya. Karena status kita semakin tahun semakin tua. Namun Generasi muda islam khususnya generasi sekarang ini yang sangat disayangkan ialah banyak yang tidak hafal dengan bulan-bulan Hijriyah, bahkan lebih asik dengan kalender Masehi.

Kemungkinan karena Negara kita lebih banyak atau memformalkan kalender Masehi. Jadi, agar budaya-budaya di alam ini tetap dinamis dan tidak hilang. Maka generasi muda harus melek terhadap ajaran-ajaran Islam, tradisi tradisi Islam termasuk tanggal dan tahun Hijriah ini yang perlu diketahui. Karena jika selalu berpatokan pada kalender Masehi. Maka tidak akan bisa menentukan waktu yabg dimuliakan oleh Islam. [ben/***]


Gus Ainun Najib, M.Ag
Penulis adalah Ahli Tafsir, Dosen IAIN Pontianak, sekaligus Pengasuh Ponpes Darunnasyi'in Kabupaten Kubu Raya


Komentar Pembaca
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00