Maraknya Rokok Elektrik Dinilai Rugikan Petani Tembakau

Ragam  JUM'AT, 30 AGUSTUS 2019 , 17:56:00 WIB | LAPORAN: ARI RAHMAN

Maraknya Rokok Elektrik Dinilai Rugikan Petani Tembakau

Ilustrasi/Net

RMOLKalbar. Panen tembakau di Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun ini kembali anjlok. Banyak petani tembakau terdampak dari anjloknya panen kali ini.
Padahal, dari sisi ekonomi justru tembakau lebih ekonomis dari pada rokok elektrik atau Vape. Tembakau lebih dapat menyentuh masyarakat kelas menengah karena harga yang terjangkau.

Namun tidak menutup mata, Vape kini lebih menjamur dan sebagian besar milenial mengkonsumsinya.

Ketua PWNU NTB, Prof Masnun Tahir, menanggapi menjamurnya Vape. Dia mengatakan itu akan berdampak pada meruginya petani tembakau di NTB.

"Terkait masalah beredarnya rokok elektrik di masyarakat tentu membuat para petani tembakau kita di NTB ini khususnya akan sangat dirugikan," katanya dalam siaran tertulis, Jumat (30/8).

Masnun mengatakan, untuk menyelesaikan permasalahan adalah kebijakan pimpinan atau penguasa harus berbanding lurus sama kemaslahatan rakyat serta memperhatikan manfaat dan mudarat.

"Tembakau tentu sangat lebih maslahat bagi pribadi dan orang banyak dalam menunjang perekonomiannya. Dibandingkan dengan rokok Vave yang berbau elektrik ini. Yang hanya bisa digunakan oleh segelintiran orang para elit. Rokok elektrik itu hanya menambah gaya hidup saja," ungkapnya.

Menurutnya, tembakau sudah hadir kan sejak zaman dahulu. Zaman di mana nenek moyang bangsa Indonesia.

"Kalau rokok listrik itu kan baru-baru ini muncul, belum berani kita jamin tingkat kesehatannya," tambah Masnun.

Pemerintah, kata dia, harus membuatkan regulasi terhadap rokok elektrik ini, yang namanya elektrik, tentu kadar penyakitnya lebih tinggi dari tembakau yang merupakan hasil panen bumi berasal dari tanah.

Secara lokal, kata Wakil Rektor 1 UIN Mataram itu, tembakau akan sangat dibutuhkan oleh petani dan rakyat.

"Tembakau kan andalan petani kita di NTB, tentu harus kita dukung juga baik secara pasar dan pemasarannya.Karena belum lagi masyarakat kita terhimpit oleh biaya penanaman tembakau yang semakin tinggi, seperti pupuk, biaya tanam, pemeliharaan dan lainnya," terangnya.

Jika keadaan seperti ini masih berlanjut, dikhawatirkan dapat menambahkan kemiskinan petani.

Di sisi lain lanjutnya, masyarakat juga harus melakukan inovasi, di tengah persaingan ini, harus mampu untuk menggaet kebutuhan pasar serta meningkatkan produktivitas. [rah]

Komentar Pembaca
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00