Let's Be A Smart Voter

Politik  SABTU, 13 APRIL 2019 , 14:52:00 WIB

Let's Be A Smart Voter

Ilustrasi/Net

Tinggal menghitung hari menuju tanggal 17 April 2019. Rakyat Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi lima tahunan, yakni pemilihan presiden-wakil presiden untuk periode pemerintahan lima tahun ke depan.
Berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, pesta demokrasi kali ini cukup rumit, karena kegiatan pemilihan presiden-wakil presiden dilakukan secara bersamaan dengan pemilihan anggota legislatif (DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota). Belum lagi sosialisasi tatacara pemilu yang dilakukan KPU kepada masyarakat hingga saat ini dirasakan kurang masif dan efektif.

Bisa dibayangkan betapa repotnya masyarakat pemilih di pelosok desa yang minim informasi untuk memilih lima kertas suara sekaligus. Selain itu, mengingat perhatian masyarakat saat ini lebih terfokus pada pemilihan presiden-wakil presiden, maka potensi terjadinya kertas suara tidak tercoblos, salah coblos atau asal coblos untuk pemilihan anggota legislatif dikhawatirkan relatif tinggi. Inilah kondisi yang mungkin kurang diperhitungkan dengan cermat oleh para decision maker dalam mendisain sistem pemilu kali ini. Tetapi apa boleh buat, the show must go on, semoga kekhawatiran tersebut tidak terjadi dan penyelenggaraan pemilu yang berbiaya sangat tinggi ini tetap terjaga kualitasnya.

Dinamika proses politik menuju hari H-nya, utamanya kegiatan kampanye dua pasangan calon (paslon) pemimpin nasional, sudah demikian riuh bahkan cenderung kian memanas. Selain bersaing pada tataran substansi yakni visi, misi dan program kerja, kedua paslon pun gencar melakukan berbagai upaya persuasif untuk meraih simpati publik. Para ulama karismatik, kaum milenial, dan barisan emak-emak energik menjadi komunitas yang paling dibidik paslon agar dapat mendongkrak elektabilitas mereka. Upaya kedua paslon kini sudah memasuki fase akhir puncak perseteruannya, yakni kegiatan kampanye terbuka.  Keduanya saling intip dan saling mengkalkulasi, siapakah yang paling berhasil menghimpun massa riil dan militan -- bukan sekedar massa bayaran -- pada setiap kegiatan kampanye yang mereka lakukan.

Di tengah hiruk pikuk hari-hari terakhir situasi kampanye kedua paslon dan pasukan elite pendukungnya, tulisan singkat ini mencoba memberikan sedikit pencerahan bagaimana seharusnya posisi dan sikap kita sebagai pemilih. Kita sepakat, bahwa memilih pemimpin nasional merupakan peristiwa amat penting dan sekaligus menjadi tanggung jawab moral setiap warga negara. Penting, karena ditangan pemimpin terpilihlah nantinya berbagai kebijakan akan ditetapkan, program kerja akan dijalankan, dan akhirnya nasib bangsa dan negara ini akan dipertaruhkan! Mengingat demikian dahsyatnya pengaruh yang bisa dibawa oleh pemimpin nasional terpilih, tentu saja, kita pun sepakat untuk tidak memutuskan pilihan secara serampangan. Lantas, gerangan kiat apa yang bisa digunakan agar kita menjadi pemilih yang cerdas dan bertanggungjawab?

Pertama, tentu berawal dari niat kita sendiri. Niat adalah kehendak hati (amaliyah qolbiyah), motif atau tujuan seseorang dalam melakukan perbuatan. "Sesungguhnya perbuatan itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapatkan sesuai dengan  apa yang ia niatkan" (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini mengisyaratkan dua kondisi berikut. Jika perbuatan seseorang disertai niat yang lurus, Lillaahi ta’ala, maka selain ia memperoleh manfaat dari apa yang dilakukannya, ia pun akan meraih nilai ibadahnya, pahala disisi Allah SWT. Tetapi jika perbuatan itu diniatkan untuk tujuan atau kepentingan lain, bukan dalam kerangka ibadah, maka ia hanya memperoleh manfaat sesuai kepentingannya tersebut. Jadi, nilai ibadah perbuatan seseorang terletak pada aspek niatnya, bukan semata pada fisik perbuatannya itu sendiri.

Lebih dari itu, perbuatan yang disertai niat yang lurus dapat membawa manfaat yang amat dahsyat. Mengapa? Karena niat yang lurus bisa mengubah orientasi tujuan dari kegiatan seseorang. Dari tujuan yang semula sempit menjadi luas, atau dari lingkup kecil menjadi besar. Pendek kata, dengan niat yang lurus maka orientasi tujuan seseorang dalam melakukan kegiatan tidak lagi terpusat pada kepentingan dirinya atau kelompoknya, tetapi akan tertuju pada kepentingan sosial yang jauh lebih besar. Lalu, adakah urgensi niat yang lurus plus nilai ibadahnya itu dalam urusan kegiatan pilih-memilih paslon? Tentu saja ada.

Niat yang lurus dapat memproteksi hak suara kita dalam memilih paslon dari bias kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, perasaan like and dislike, partisan buta, atau kepentingan sempit dan picik lainnya.  Niat yang lurus selain dapat menjamin perilaku memilih kita menjadi lebih objektif dan rasional, juga membuat orientasi pilihan kita akan sampai pada sebuah tujuan yang benar, besar dan ideal, yakni menggunakan hak suara kita semata-mata demi kemaslahatan bangsa dan negara. Disinilah barangkali sisi nilai ibadah dari aktivitas memilih kita. Nah, mari sekarang kita introspeksi diri sejenak. Sudah luruskah niat kita ketika menentukan paslon pemimpin mana yang akan kita pilih?

Niat yang lurus dapat memproteksi hak suara kita dalam memilih paslon dari bias kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, perasaan like and dislike, partisan buta, atau kepentingan sempit dan picik lainnya. Niat yang lurus selain dapat menjamin perilaku memilih kita menjadi lebih objektif dan rasional, juga membuat orientasi pilihan kita akan sampai pada sebuah tujuan yang benar, besar dan ideal, yakni menggunakan hak suara kita semata-mata demi kemaslahatan bangsa dan negara. Disinilah barangkali sisi nilai ibadah dari aktivitas memilih kita. Nah, mari sekarang kita introspeksi diri sejenak. Sudah luruskah niat kita ketika menentukan paslon pemimpin mana yang akan kita pilih?

Selain itu, visi, misi dan program yang ditawarkan kedua paslon, yang sudah disampaikan dalam empat kali momen debat capres-cawapres, harus  menjadi fokus utama perhatian kita. Cermati, paslon manakah yang visinya benar-benar merefleksikan keinginan kuat seluruh anak bangsa ini untuk menjadi bangsa yang mandiri, berdaulat dan bermartabat. Paslon manakah yang mampu menawarkan program kerja yang benar-benar realistis, tepat sasaran, berorientasi pada kepentingan rakyat banyak, berbasis pemanfaatan sumberdaya lokal, serta program kerjanya tersusun secara terencana, terukur dan sistematis untuk bisa mewujudkan visinya tersebut. Paslon dengan rekam jejak, visi, misi dan program kerja yang istimewa, serta kita yakini memiliki kejujuran, komitmen dan kemampuan tinggi untuk merealisasikan janji-janji yang dikampanyekannya, tentu akan menjadi alasan kuat bagi kita untuk memilihnya. Jadi, bukan lagi paslon yang cuma sibuk melakukan pencitraan demi pencitraan dan gampang mengobral janji yang membuat kita jatuh hati.  Sebab, tipikal paslon seperti ini tidak lebih dari sekedar penjual pepesan kosong belaka, dan biasanya tidak memiliki moral obligation  yang cukup untuk menepati janji-janjinya.

Ketiga, mencermati kualitas elite pendukung paslon baik orang per-orang, partai, ormas maupun institusi lainnya. Kualitas yang dimaksud merupakan kombinasi dari kapasitas, kejujuran, dan keluhuran motivasi elite pendukung dalam memberikan dukungan. Mengapa hal ini penting ? Karena bagaimanapun, ketika paslon yang didukungnya terpilih, para elite pendukung nantinya akan banyak memberikan pengaruh, entah itu positif atau negatif, terhadap berbagai kebijakan yang diambil sang pemimpin. Maka, sebelum menentukan pilihan tampaknya perlu kita perhatikan dengan seksama mana paslon yang  dikelilingi oleh sebagian besar elite pendukung yang memang berkualitas, dan mana paslon yang lebih banyak dikelilingi oleh para begundal atau benalu kekuasaan. Mengenali paslon dari sisi kualitas elite pendukungnya tentu akan sangat membantu kita dalam memantapkan pilihan.

Keempat, membangun kesadaran diri untuk meletakkan  hak pilih kita dalam perspektif kehidupan kolektif berbangsa. Kesadaran diri seperti ini penting, karena akan mendorong perilaku kita untuk menjadi pemilih yang baik : cerdas dan bertanggungjawab. Pemilih yang bersikap independen dan kritis; pemilih yang akan memberikan hak suaranya hanya kepada calon pemimpin yang benar-benar qualified, dapat membawa maslahat bagi seluruh rakyatnya, serta mampu mengelola  bangsa dan negara ini on the right track. Dengan menjadi pemilih yang cerdas dan bertanggungjawab, sejatinya kita sekaligus berupaya mencegah bangsa ini menjadi bangsa yang bernasib tragis ! Yakni, bangsa yang gagal menghadirkan  sosok pemimpin yang baik bukan lantaran tidak ada calon pemimpin yang baik, melainkan karena perilaku memilih sebagian besar masyarakatnya yang buruk.

Boleh jadi saat ini anda sudah memutuskan siapa paslon yang anda akan pilih. Bila keputusan  tersebut sudah anda awali dengan niat yang lurus, menimbang rekam jejak, visi, misi dan program kerja paslon, mencermati kualitas elite pendukungnya, serta anda letakkan pilihan tersebut dalam perspektif kehidupan kolektif berbangsa, syukurlah. Anda tinggal mengeksekusinya saja di kamar bilik suara nanti. Namun jika ternyata belum, maka sebaiknya anda pertimbangkan kembali keputusan tersebut. Let’s be a smart voter! Mari kita gunakan hak suara kita sebagai suatu ibadah politik demi terwujudnya Indonesia tercinta yang lebih baik. Tentu saja, Indonesia yang adil, makmur, berdaulat dan bermartabat. [ben]

Zahid Ilyas
Penulis adalah Dosen dan Penulis Lepas 


Komentar Pembaca
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00