Kepada 'Swing Votes', Chairil: Jangan Sampai Golput!

Politik  SENIN, 08 APRIL 2019 , 14:06:00 WIB | LAPORAN: BENY KAWISTORO

Kepada 'Swing Votes', Chairil: Jangan Sampai Golput!

Prof. Dr. Chairil Effendy, M.S/RMOLKalbar

RMOLKalbar. Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar, Prof. Dr. Chairil Effendy, M.S., yang juga merupakan Profesor Sastra Universitas Tanjungpura (Untan) bidang Sastra Nusantara, berkesempatan memberikan pandangannya seputar kondisi sosial politik menjelang Pemilu Serentak 2019 di Kalbar, Senin pagi (8/4).
Kepada Kantor Berita RMOLKalbar, Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak Periode 2007-2011 ini membeberkan bahwa Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar secara rutin mendiskusikan hal-hal yang berkaitan Pemilu Serentak 2019, pada 17 April mendatang.

Berdasarkan hasil diskusi-diskusi tersebut, lanjutnya, kami melihat bahwa masyarakat kita dalam menyikapi Pemilu 2019 ini, khususnya pada Pemilu Presiden (Pilpres), itu terbelah menjadi 2 pihak, di satu pihak mendukung Jokowi-Amin, dan pihak lainnya mendukung Prabowo-Sandi. Namun, itu tidak terlihat di dalam Pemilu Legislatif (Pileg), baik untuk DPR-RI, DPD-RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota.

"Kalo 4 yang lainnya itu (Pileg) relatif cair, tetapi untuk Pilpres ini terpolarisasi menjadi 2 kubu. Memang ini ada sisi positif dan negatifnya. Nah, sisi positifnya mereka yang terlibat dalam hiruk pikuk Pilpres tersebut sudah dipastikan memposisikan diri untuk tidak Golput, punya motivasi untuk memenangkan calon presiden atau idola mereka masing-masing. Akan tetapi, sisi negatifnya bisa saja akan terjadi 'friksi' diantara kedua kelompok tersebut," ungkap pegiat budaya ini.

Menurutnya, sejauh semata-mata 'friksi' tidak ada masalah, tetapi kita berharap janganlah 'friksi' yang kecil-kecil itu lalu kemudian menjadi penyulut adanya konflik, apalagi sampai terjadi konflik sosial. Nah, kita tidak berharap sepertinya. Oleh karena itulah, kami di MABM Kalbar secara rutin setiap bulannya melakukan pertemuan antar tokok etnik di Rumah Adat Melayu, yang kami bungkus dalam bentuk 'Ngopi Pagi Bersama'.

"Di Kalbar, sampai dengan saat ini ada 18 kelompok etnik, ada organisasinya. Ide itu, Alhamdulillah, dimanfaatkan juga oleh Polresta Pontianak dan Polda Kalbar. Dan kami telah melakukan kegiatan ini jauh sebelum adanya momentum Pilpres 2019, bahkan sebelum adanya Pilkada Gubernur. Alhamdulillah, semua tokoh yang masing-masing ada di kelompok etnik tersebut hadir, kemudian berdiskusi, membangun silahturahim, membangun rasa kebersamaan, sehingga jika ada persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat, sesegera mungkin dapat kita deteksi dan dapat kita selesaikan," ujarnya.


Terkait peluang 'friksi' yang disampaikan tadi, ditambah dengan perkembangan arus informasi di media sosial (medsos) yang kini kian gencar, terutama pada fenomena debat argumen pada masing-masing pendukung pasangan calon presiden, apakah ini berpengaruh terhadap penggunaan hak pilih? Apakah ada kecenderungan dari masyarakat untuk Golput? Karena, saat ini masih saja ada masyarakat yang belum menentukan pilihannya atau swing votes.


"Memang kehidupan kita saat ini, salah satunya dikendalikan oleh apa yang disebut dengan 'Cyber Space', kemajuan teknologi yang kemudian membawa pada medsos dalam kehidupan kita. Nah, dengan kemajuan teknologi ini, konten-konten yang ada di medsos itu dilipatgandakan dengan sangat cepat sekali, diproduksi dengan sangat cepat dan disebarkan dalam hitungan-hitungan sangat cepat, sehingga setiap hari kita dibanjiri oleh ribuan informasi, termasuklah informasi tentang Pilpres ini," tuturnya.

Chairil menambahkan, medsos ini jika tidak dimanfaatkan dengan baik, memang bukan tidak mungkin mengubah persepsi orang terhadap sesuatu. Artinya, dalam konteks ini, persepsi orang terhadap tokoh-tokoh tertentu. Oleh karena itu, dalam rangka mengubah persepsi-persepsi tersebut, sering kali 'hoaks' atau 'fake news' atau berita-berita bohong itu, diproduksi juga dalam rangka untuk mempengaruhi pilihan-pilihan atau pikiran-pikiran orang.

"Jika orang yang menerima itu cerdas, teliti, hati-hati, serta bersandar pada sikap tabayyun atau cross check, nah medsos seperti itu mungkin akan memberikan dampak yang kecil, tapi bagi masyarakat yang dibawah, yang pendidikannya masih terbatas, masih grusa-grusu, tidak sabar, tidak melakukan tabayyun, maka boleh jadi berita-berita semacam itu menggerakkan mereka, bahkan bukan hanya berpindah pilihan, tapi juga melakukan hal-hal yang sangat tidak diizinkan, misalnya menyobek atau merusak baliho salah satu pasangan calon presiden, mengeluarkan kata-kata yang tidak baik (hate speech) dan lainnya," pesannya.

Berkaitan dengan swing votes yang saat ini belum menentukan pilihan, lanjutnya, memang ada 2 kemungkinan, seperti mereka merasa jenuh dengan hiruk pikuk demokrasi saat ini, atau mereka memang mmengambil posisi diam saja dulu, sehingga tidak mau dikategorikan pada kelompok 01 ataupun 02.

"Bukan berarti mereka tidak mempunyai pilihan, atau bisa saja sudah mempunyai pilihan, tetapi mereka tidak ingin menjadi sasaran kemarahan oleh pihak 01 jika mereka memilih pihak 02, atau sebaliknya, menjadi sasaran kemarahan pihak 02 jika mereka memilih 01. Jadi, kondisi silent mereka (swing votes) ini, bisa saja nanti ada peluang untuk merasa jenuh, kemudian dia Golput. Tetapi juga ada kemungkinan mereka menunggu waktunya untuk berbicara atau tindakan untuk mencoblos pada saat pemilihan," imbuhnya.


Himbauan

"Kepada yang akan melakukan Golput, tapi mudah-mudahan tidak ada, kita menghimbau agar tidak perlu melakukan Golput. Karena, hasil yang akan keluar nanti pada 19 April mendatang merupakan pilihan kita semua. Kalo tidak suka pada salah satu calon, maka jangan pilih calon tersebut. Tetapi, tentukanlah pilihan agar siapapun yang terpilih itu mandapatkan legitimasi yang kuat dari masyarakat," himbaunya.

Legitimasi ini penting, terangnya, agar pasangan calon pemimpin Indonesia yang terpilih nanti, betul-betul mendapat amanah yang kuat, serta juga memiliki 'power' yang kuat, untuk menjalankan tugas-tugasnya sebagai pemimpin bangsa yang besar dan plural ini, yang terdiri lebih dari 17.000 gugus pulau, 700 bahasa dan ratusan etnik.

Oleh karena itu, Chairil berharap sekaligus menghimbau kepada saudara-saudara kita yang 'punya pikiran untuk tidak menggunakan hak suaranya', itu jangan sampai Golput.

"Mari berikan suara kita, berikan mandat kita, kepada calon pemimpin yang kita kehendaki. Jika ternyata pilihannya tidak menang, itu tidak apa-apa. Namun, sebaliknya jika pilihannya menang, maka kita telah memberikan mandat yang besar kepada mereka," tutup Chairil mengakhiri wawancara. [ben]


Komentar Pembaca
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00