Jeritan Hati Ratu Petarung Dari Timur Nusantara!

Budaya  SABTU, 12 JANUARI 2019 , 12:27:00 WIB | LAPORAN: BENY KAWISTORO

Jeritan Hati Ratu Petarung Dari Timur Nusantara!

Ratu Azia (Tengah)/RMOLKalbar

RMOLKalbar. Kerajaan Amantubillah Mempawah selama 2 hari berturut-turut telah sukses menggelar pagelaran tradisi adat budayanya, mulai dari Mandi Paripurna Laskar Diraja Amantubillah Mempawah, Ziarah Makam Ratu Kesumba dan Raja-Raja Mempawah, Pelepasan Puake, Pencucian Pusaka, sampai dengan Ritual Adat Toana, yang diakhiri dengan Launching Keputren Amantubillah Mempawah.
Pagelaran tradisi adat budaya tersebut dihadiri oleh tamu-tamu kerajaan dan tamu-tamu undangan lainnya, serta para stakeholder setempat.

Perhatian kemudian tertuju kepada salah satu tamu kerajaan yang turut hadir di acara tersebut, yaitu Ratu Azia, Ratu dari Kerajaan Alas, yang lokasinya tepat berada di perbatasan RI-Timor Leste, di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Pemilik nama asli Josefa, kala itu sempat terlihat membawa sebuah patung buaya putih yang diyakininya memiliki kekuatan spiritual tertentu.

"Suami saya dulu seorang Perwira TNI-AD berpangkat Kapten, tetapi saya membuat pernyataan siap diceraikan kepada Panglima Tertinggi, karena saya saat itu diangkat menjadi Ratu, harus hidup bersama rakyat selama-lamanya, sehingga dari tahun 2006 saya sudah menyandang status janda. Selama hidup di pedalaman bersama rakyat, saya belajar kekuatan ilmu alam. Jadi saya banyak dikenal sebagai Ratu Buaya Putih," ujarnya, Rabu (9/1).

Pejuang bagi Rakyatnya!

"Saya lagi dalam kondisi berjuang di Atambua! Pernyataan saya sudah banyak beredar di sosial media," tandasnya.

Ratu Azia menjelaskan bahwa rakyatnya sampai dengan saat ini masih dilanda kelaparan, perhatian dari pemerintah setempat tidak ada.

"Berpuluh-puluh tahun itu waktu yang cukup lama, kami punya kekayaan, kami punya semuanya, tidak pantas kami harus begini. Pernah demo besar, Gubernur mau saya kasi mati, tapi rakyat memohon dan menahan saya, saya saat itu sudah rela mati! Pikiran saya sudah bereaksi, leluhur sudah masuk, maka saya sudah tidak ingat lagi apa-apa," ungkapnya kepada Kantor Berita RMOLKalbar.

Ratu menambahkan bahwa perhatian dari Pemerintah RI masih sangat kurang.

"Hari-hariku, hidupku, tetap seperti ini, penuh tangis dan sangat sedih. Saya memohon kepada Pak Presiden, sampai sekretaris negara dan menteri dalam negeri juga sudah pernah saya temui semuanya, tetapi tidak ada reaksi. Maka dari itu, kami akan bersedia perang! Saya pulang, saya buat adat, kami perang! Hanya itu jalan satu-satunya, demi harga diri, seandainya bertahanpun, lebih baik mati di medan perang, itu sudah menjadi pernyataan saya!," tegasnya.

Pro-Integrasi!

"Dari tahun 1999 sampai dengan hari ini, tidak tahu (bantuan) jatuhnya kemana-mana, tetapi ke Kerajaan Alas tidak (pernah). Bapak saya seorang tokoh yang turut andil menandatangani untuk meminta Timor-Timur bisa masuk (bergabung) ke Indonesia, beliau keliling negara, keliling dunia, ke 46 negara, sampai ke itali, sampai ke china, sampai kemana-mana. Tetapi, justru sekarang bapak saya dikuburkan seperti binatang di Bali, padahal beliau notabene adalah seorang Raja dan Pejuang Pro-Integrasi," ungkapnya dalam tangis.

Apa yang paling diperlukan disana?

"Bisa makan saja, kami tidak menuntut yang lain! Bantuan banyak, tapi orang lain makan semua (tidak amanah), tidak sampai di kami. Saya teriak kepada Pak Presiden untuk datang melihat, tetapi dimana Pak Presiden kami ini! Kami manusia, punya harga diri. Betapa ribuan orang mencintai NKRI ini, tetapi kenapa justru kami ini ditinggalkan (dilupakan)?," tegasnya.

Apakah tradisi adat istiadat di Kerajaan Alas masih berjalan?


"Masih ada, lengkap di sana saya punya rakyat, dengan rumahnya, adatnya, dengan pasukannya, menjaga kami, bahkan masih sembah-sembah. Tetapi hari ini kami menjadi binatang, kami dianak-tirikan di dalam NKRI," ungkapnya.

Ratu Azia mengungkapkan bahwa dimana-mana, di acara kerajaan sekalipun dirinya sebenarnya sudah malas untuk ikut, karena yang ada cuma tangisan, kami sudah malu.

"Janganlah membuat kami menangis terus, jika air mata saya tidak menjadi lautan, saya bersumpah demi langit dan bumi! Saya petarung! Saya wanita petarung! Saya berikan jiwa raga ini, karena seorang Ratu itu hidup, makan dan minum, bersama mereka (rakyatnya)," tegasnya.

Pada Ritual Adat Toana, oleh Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya, M.Sc., Ratu Azia diberikan anugerah Yang Maha Utama Sri Amantubillah, dengan gelar Yam Puan. [rah]


Komentar Pembaca
Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00