Pelita Hati

Ragam  KAMIS, 10 JANUARI 2019 , 12:07:00 WIB

Pelita Hati

Ilustrasi/Net

BERMULA dari sel telur hingga terbentuk semua organ. Dan t'lah tiba waktunya ku melihat dunia.Detik itu juga engkau perjuangkan dan engkau pertaruhkan nyawamu.
Ibu.. Tak bisa ku bayangkan sakit yang kau rasakan.

Tapi semua itu hilang, ketika engkau melihat putri kecil mu.
Matamu berkaca-kaca, senyum mu, tangis mu.
Semua itu saling berbicara.

Tatapan manjamu seolah beribu harapan yang engkau tanamkan.
Kelembutan kasihmu membuat jiwa ini damai dan tentram.
Tutur katamu akan menjadi panutan telinga ku dalam mengucap satu kata.
Saat itu juga pasti kau nantikan suara-suara manja.
Yang akan mewarnai rumahmu.

Detik-detik demi detik mu adalah milikku.
Timang mu membuatku ingin berbicara padamu.

Ibu.... Ibu.... Ibu....
Kata itu akhirnya terucap, kata yang selalu engkau nantikan.

Ibu....
Entah bagaimana ku membalas semua budi baik mu.
Membalas semua pengorbanan mu.
Andai kau minta untuk membayar, pasti takkan sanggup untuk membayar.
Ibu kau lah terang dalam gelapku.
Senantiasa terjaga dalam lelapku.

Terimakasih kuhaturkan padamu Ibu.
Tuhan jagakan ibu untukku, jangan lepaskan ia dari pandangan mu.
Karena tanpa dia ku bukan apa-apa.
Tanpa dia ku tak bisa melihat dunia.

Ibu....
Engkaulah perisai dan tumpuan hidupku.
Sekarang dan selamnya.


Penulis adalah Widy Febryani, aktivis perempuan



Komentar Pembaca
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00