Awalnya Bergantung Alam, Kini Warga Ngidiho Jadi Jutawan Lewat Solid

Nusantara  MINGGU, 09 DESEMBER 2018 , 05:26:00 WIB | LAPORAN: BOBBY AFIF

Awalnya Bergantung Alam, Kini Warga Ngidiho Jadi Jutawan Lewat Solid

Panen di Ngidiho/RMOL

RMOLKalbar. Kesuksesan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian memperbaiki taraf hidup masyarakat miskin tak sekadar lewat program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) saja.
Sejak 2012 lalu, BKP Kementan menjalankan Program Smallholder livelihood Development Program (Solid) yang khusus dibuat untuk memberdayakan masyarakat di wilayah Timur Indonesia.

Untuk mengetahui tentang keberhasilan program ini, Kantor Berita Politik RMOL bersama Kepala Kepala BKP Kementan, Agung Hendriadi menuju Desa Ngidiho yang terletak di Kecamatan Galela Timur, Kabupaten Halmahera Utara.

Dibutuhkan waktu sekitar empat jam untuk mencapai Bandara Sultan Babullah, Ternate dari Jakarta. Setibanya di Ternate, seluruh tim langsung bergerak menuju Sofifi dengan menumpang kapal cepat dari pelabuhan Ternate. Perjuangan menuju lokasi tak berhenti di sana, perjalanan darat selama 4 jam kembali dilakukan untuk mencapai Desa Ngidiho.

Pantai di sepanjang Kota Sofifi terlihat sangat indah dan masih perawan. Tak heran memang karena penduduk di pulau ini tidak begitu banyak. Meski demikian, sepanjang mata memandang terlihat perkebunan kopra dan tanaman hortikultura menghiasi perjalanan kami.

Setibanya di Desa Ngidiho, seluruh tim langsung disambut oleh puluhan petani yang tergabung dalam beberapa kelompok.

Kushmina (49) salah satu petani yang mendapat manfaat dari program Solid mengatakan bahwa sebelumnya mereka hanya mengandalkan alam untuk bertahan hidup. Namun, tim pendampingan dari Solid berhasil mengubah pola hidup mereka secara drastis.

"Sebelum ada Solid kita warga hanya menanam untuk kebutuhan makan sehari-hari saja. Bahkan kita juga hanya mengandalkan makanan dari alam," ujarnya, Sabtu (8/12).

Kata Ibu dua anak ini, program Solid mengajarkannya bagaimana cara menanam kacang tanah, singkong tanaman hortikultura pendamping lainnya. Ia mampu mengantongi hingga Rp 5 juta per tiga bulan dengan hanya menanam setengah hektar kacang tanah.

"Itu khusus untuk pendapatan dari kacang tanah saja, beda lagi tanaman lain," unngkapnya.

Kisah sukses ini juga terjadi pada Urait (40). Ayah dari empat orang anak asal Desa Teguliweh, Kecamatan Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Utara ini mampu meraup untung hingga Rp 150 juta dari tanaman cabai.

"Jadi saya menanam 5.000 batang cabai. Satu batang cabe mampu hasilkan 2 kilo cabai dan selama empat bulan bisa dapat untung sampai Rp 150 juta," katanya.

Keberhasilan masyarakat desa Ngidiho bertanam tomat dan cabai tidak lepas dari keberhasilan Ardiamzah selaku ketua kelompok tani di desa Ngidiho. Ardi, demikian dia biasa dipanggil, sebelumnya merupakan sopir mobil lintas Halmahera.

Selain menjadi sopir, Ardi juga bercocok tanam tanaman hortikultura khususnya tomat dan bawang. Usaha Ardi semakin besar dengan fasilitasi yang diterima dari Solid antara lain pelatihan-pelatihan budidaya, permodalan dan sarana prasarana. Kini  Ardi merupakan salah satu petani Solid yang sukses di Desa Ngidiho.

Keberhasilan petani Desa Ngidiho juga diikuti oleh desa-desa lain yang bukan penerima manfaat Solid. Hal ini tidak lepas dari peranan petani-petani binaan Solid yang membagi ilmu dan teknologinya kepada masyarakat di luar desa Solid. Berkat ilmu dan teknologi yang diajarkan oleh penerima manfaat Solid, kini petani-petani di desa luar Solid pun mulai ikut membudidayakan tomat dan cabai yang telah meningkatkan pendapatan dan kesehteraan masyarakat.
 
Kepala BKP, Agung Hendriadi mengatakan secara umum salah satu ukuran tingkat kesejahteraan petani Ngidiho adalah dengan meningkatnya pendapatan petani yang mendapat bantun program Solid. Masing-masing kelompok tani yang biasanya terdiri dari 20 anggota akan mendapatkan bantuan hingga Rp 20 juta selama dua tahun berturut-turut. Sehingga total bantuan permodalan yang diterima kelompok sebesar Rp 40 juta.

Setiap kelompok juga akan menerima bantuan prasarana pertanian sebesar Rp 10 juta yang dapat digunakan untuk membangun asaran, lantai jemur, pagar, saung tani dan lain sebagainya.

Selain itu fasilitas pelatihan, peralatan-peralatan usaha tani, pasca panen dan pengolahan juga diberikan kepada kelompok tani maupun unit-unit usaha atau yang lebih dikenal dengan nama sentra bisnis juga akan diberikan. Tercatat ada 53 sentra bisnis yang mendapatkan fasilitasi peralatan, prasarana dan permodalan untuk mengembangkan usaha mereka,” jelas Agung.

Kata Agung, kesejahteraan masyarakat penerima manfaat berbanding lurus dengan meningkatnya luasan usaha yang dikerjakan oleh mereka. Ia menjelaskan bila pendapatan per kapita per bulan penerima manfaat Solid di Maluku dan Maluku Utara pada tahun 2018 rata-rata lebih tinggi dibandingkan perdapatan per kapita per bulan pada tahun 2012 dan 2014 setelah memperhitungan angka inflasi. Peningkatan pendapatan yang dialami oleh penerima manfaat Solid sejalan dengan peningkatan aset yang dimiliki seperti barang elektronik dan alat transportasi.

Sementara situasi ketahanan pangan masyarakat penerima manfaat juga berangsur-angsur membaik yang ditandai oleh meningkatkan angka konsumsi energi per kapita per hari (kkal). Meningkatnya angka konsumsi energi per kapita per hari ini sekaligus mengubah situasi ketahanan pangan yang awalnya rentanpangan dengan tingkat konsumsi energi (TKE) 70-89,9 persen Angka Kecukupan Energi (AKE) menjadi tahan pangandengan TKE > 90 persen AKE,” jelas Agung.

Keberhasilan petani Desa Ngidiho, Kata Agung, ternyata diikuti oleh desa-desa lain yang bukan penerima manfaat Solid. Hal ini tidak lepas dari peranan petani-petani binaan Solid yang membagi ilmu dan teknologinya kepada masyarakat di luar desa Solid. Ia menjelaskan bahwa ilmu dan teknologi yang diajarkan oleh penerima manfaat Solid kini menjadi contoh bagi petani yang belum bergabung dalam Solid.

"Ada petani yang mulai ikut membudidayakan tomat dan cabai yang telah meningkatkan pendapatan dan kesehteraan masyarakat," jelas Agung.

Kata Agung, menjelang berakhirnya program Solid di tahun 2018 ini, pemerintah daerah pelaksana program Solid seperti Seram Bagian Timur, Halmahera Tengah dan Buru Selatan telah mengalokasikan APBD untuk mereplikasi kegiatan maupun pendampingan demi keberlanjutan program ini di daerahnya.

Replikasi telah diterapkan di Seram Bagian Timur dengan membentuk 24 kelompok tani baru di 13 dusun. Integrasi program Solid dengan Bumdes juga diupayakan di setiap kabupaten. Selain itu keberlanjutan kegiatan juga ditentukan oleh keberadaan pasar bagi produk-produk yang dihasilkan oleh seluruh anggota.

Oleh karena itu, masih kata Agung, berbagai inovasi pemasaran telah ditempuh oleh manajemen Solid kabupaten, salah satunya melalui penerbitan instruksi bupati yang mewajibkan ASN setempat untuk mengkonsumsi produk-produk petani binaan Solid.

Kerjasama dengan perusahaan besar setempat untuk menyuplai kebutuhanpegawainya; kerjasama dengan supermarket danminimarket setempat maupun kerjasama dengan eksportir yang berasal dari provinsi lain. Kerjasama yang saat ini sedang dijalin dengan eksportir dari provinsi lain adalah untuk komoditas kopra, arang batok kelapa, VCO dan minyak sehat,” tutup Agung.

Solid merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di wilayah timur Indonesia, yang dibiayai denganmenggunakan dana pinjaman dan hibah dari International Fund for Agricultural Development (IFAD) dan dana pendamping dari pemerintah Indonesia.

Program ini dilaksanakan oleh BKP Kementan sebagai institusi pelaksana utama yang selanjutnya mendelegasikan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan kepada pemerintah daerah, dalam hal ini pemerintah provinsi dan kabupaten.

Ada pun wilayah pelaksanaan kegiatan Solid adalah 11 kabupaten di provinsi Maluku dan Maluku Utara yaitu Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Buru, Buru Selatan, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Halmahera Barat, Halmahera Timur dan Kepulauan Sula.

Pelaksanaan program Solid bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan masyarakat penerima manfaat sedangkan sasarannya adalah petani miskin dengan skala usaha kecil termasuk di dalamnya adalah perempuan, penduduk asli maupun pendatang. [rah]


Komentar Pembaca
Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Pemerintah Mau Amputasi KPK?

Pemerintah Mau Amputasi KPK?

SELASA, 11 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00