Pembangunan Jalan Di Pontianak Tidak Diimbangi Dengan Jumlah Parit

Daerah  KAMIS, 06 DESEMBER 2018 , 13:08:00 WIB | LAPORAN: MULYADI AR

Pembangunan Jalan Di Pontianak Tidak Diimbangi Dengan Jumlah Parit

Foto/RMOLKalbar

RMOLKalbar. Jalan-jalan di Pontianak sangat mudah tergenang. Terutama, saat musim hujan melanda. Koordinator Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia Wilayah Kalimantan, Gusti Zulkifli Mulki mengatakan, perencanaan wilayah kota Pontianak menjadi salah satu penyebabnya.
Menurut pengamatannya, jalan yang kerap tergenang antara lain Ahmad Yani, Sutoyo, KS Tubun, Sumatera, dan M Sood.

"Kota Pontianak bukan kota yang memiliki ketahanan terhadap banjir,” ujarnya, Kamis, (6/12)

Pakar sumber daya air ini menjelaskan, pembangunan jalan di Pontianak tidak diimbangi dengan jumlah parit yang ada. Hal ini berbeda dengan perencanaan yang dilakukan Belanda.

Zulkifli mengatakan, saat Sultan Syarif Abdurahman membangun kawasan Beting pada 1778, Belanda meminta lahan dan diberikanlah lahan di seberangnya, yakni di kawasan  Gertak Satu, jalan Merdeka, jalan Penjara, jalan Sulung Lelanang, dan jalan Diponegoro.

"Daerah itulah yang merupakan wilayah yang dibuat Belanda,” katanya.

Sebelum membuat jalan, Belanda membuat parit berukuran besar. Mereka mengeruk tanah dan menyimpannya di tepi jalan. Lalu dibiarkan bertahun-tahun baru dibangun jalan dan permukiman.

"Malahan di pasar banyak parit, Sudirman itu paritnya besar. Kenapa begitu? Karena Belanda tahu ini daerah rawa. Yang dibuat Belanda itu parit dulu baru jalan,” jelasnya.

Parit-parit warisan Belanda ini, kata dia, masih ada hingga saat ini. Bahkan, ketika curah hujan tinggi, wilayah di sekitarnya cenderung stabil dari banjir dibanding wilayah lain.

Pada masa orde baru, pembangunan jalan terus berlanjut. Namun, berbeda dengan pada masa Belanda, pembangunan jalan tidak disertai pembangunan parit besar. Hanya ada selokan kecil lebih kurang satu meteran. Di sinilah, kata Zulkifli, mulai terjadi kesalahan perencanaan.  

"Jadi warisan Belanda membangun dengan parit lebar, tidak diteruskan konsepnya. Maka jalan daerah Ahmad Yani sering banjir, dan  daerah warisan Belanda cenderung stabil,” imbuhnya.

Umumnya, lanjut Zulkifli, kondisi banjir terjadi jika air pasang disertai dengan curah hujan yang tinggi. Faktanya, kata dia, hujan deras tanpa air pasang pun bisa menimbulkan banjir.

"Tahun ini, ada dua kali banjir besar. Kalau kita lihat sekitar Januari atau Februari, Jalan Ahmad Yani, Sutoyo, di koran ditulis karena hujan ekstrem sangat lebat plus air pasang. Namun, kalau saya lihat tanggal tersebut, dua kali  hujan ekstrem yang melanda itu tanpa air pasang. Kesimpulan hanya karena hujan, Pontianak banjir,” terangnya.

Demikian halnya dengan  di kawasan Purnama. Dulunya, kata Zulkifli, daerah itu merupakan daerah konservasi.

"Namun, karena butuh lahan jadilah permukiman. Purnama itu paling rendah, kalau kebanjiran ya wajar. Kalau tempat lain sudah banjir tinggi, Purnama bisa lebih parah,” tambahnya.

Pemerintah kota saat ini harus fokus pada perbaikan drainase. Menurutnya, banjir terjadi di sejumlah wilayah kemungkinan ada sumbatan drainase. Coba perhatikan saat hujan deras. Di wilayah Ahmad Yani itu kan ada jalan paralelnya. Di Jalan Sutoyo, Sumatera, samping SD Muhammadiyah itu banjirnya tinggi, sementara di kawasan lain sekitarnya itu dangkal, berarti ada saluran air yang tersumbat,” paparnya.

Musim penghujan ini, kata dia, menjadi waktu yang tepat bagi pemerintah untuk mengecek salurah air. Kondisi sekarang ini, kata dia drainase di Pontianak belum terurus dengan baik.

"Dari primer, sekunder, sampai tersier itu sambungannya tidak jelas. Ada daerah tertentu tidak betul juga menggenangi daerah itu,” katanya.

Beliau melanjutkan, Pemerintah boleh saja melakukan pelebaran jalan. Namun perlu memperhatikan saluran air. Bisa dengan cara membuat saluran tertutup di bawah jalan. Prakiraan air pasang juga harus disebarluaskan ke masyarakat agar bisa berjaga-jaga ketika ada curah hujan yang tinggi.

Sementara itu, Prakirawan BMKG Sutikno menyebutkan bahwa sekarang sedang terjadi gangguan meteorologis di sekitar wilayah Kalimantan Barat. Itu adalah aktifnya MJO alias Madden Julian Oscillation pada wilayah kuadran 3.

MJO sendiri diartikan suatu indeks gangguan tropis berupa kumpulan awan hujan yang merambat ke arah timur sepanjang daerah tropis dengan siklus 30  sampai 60 hari ke depan.

Para ahli menyebutkan bahwa MJO memberi dampak luas terhadap pola hujan di wilayah tropis dan sekitar. Sirkulasi atmosfer dan suhu permukaan di sekitar tropis dan subtropis.

"MJO biasanya memberi dampak berupa hujan lebat di Kalbar mulai pada kuadran 2-4,” jelas Sutikno.

Sutikno melanjutkan bahwa analisa garis angin pada ketinggian 3.000 feet memperlihatkan terdapat pola gangguan angin berupa pola pertemuan garis angin dan pola pusaran angin masuk  di Kalbar. Pola-pola angin tersebut bisa memicu terjadinya hujan lebat di wilayah Kalimantan Barat.  

Maka dari itu, dalam sepekan ke depan wilayah berpotensi hujan dengan intensitas ringan, sedang dan cenderung terjadi lebat menimpa hamper merata wilayah Kalbar. BMKG memperkirakan bahwa Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, dan Sekadau pada sore hingga malam hari rentan turun hujan. (mul)


Komentar Pembaca
Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Pemerintah Mau Amputasi KPK?

Pemerintah Mau Amputasi KPK?

SELASA, 11 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00