Taman Musik Depok Untuk Kota Layak Anak

Lifestyle  KAMIS, 29 NOVEMBER 2018 , 08:17:00 WIB | LAPORAN: BOBBY AFIF

Taman Musik Depok Untuk Kota Layak Anak

Taman Musik Depok/RMOLKalbar

RMOLKalbar. Keberadaan Taman Musik Depok (TMD) menambah warna baru dalam khasanah dunia seni di Kota Depok, khususnya di bidang musik. Awalnya, TMD dikhususkan untuk pelajar tingkat SD, SMP dan SMA. Berjalannya waktu, kehadirannya turut diminati anak TK. Tak pandang kalangan, ada juga siswa tunarungu yang mengikuti kelas di TMD.
Pendiri Taman Musik Depok, Koko Thole mengatakan berdirinya TMD merupakan hasil obrolan dengan Walikota Depok, Mohammad Idris saat kegiatan APEKSI di Jambi untuk mendukung program Kota Layak Anak (KLA). Gayung bersambut, tahun 2017 TMD resmi berdiri.

Meski menggunakan istilah "taman", namun proses belajar mengajar TMD belum menggunakan taman. Hal ini masih terkendala fasilitas taman yang belum mendukung konsep TMD, yakni taman terbuka dan memiliki beberapa sudut tempat untuk kelas gitar, kelas vokal, kelas perkusi dan kelas biola yang mengelilingi sebuah panggung besar. "Nantinya fungsinya akan ada satu pelajaran patitur yang harus pelajari bersama. Nanti ada berembuk, kemudian pentas bareng untuk melatih keberanian mereka," katanya.

Sementara ini, kata Koko Thole, sambil menunggu pembangunan taman yang sudah diajukan konsepnya ke Pemkot Depok, kegiatan belajar TMD menggunakan Gedung Pemuda di Jalan Merdeka, Depok Dua. Sebelumnya, di awal berdiri, kelas musik TMD menggunakan kantor Kelurahan Mekarjaya yang difasilitasi Lurah Ahmad.

"Saya bilang ke pak wali, saya ingin taman yang orangtuanya mengantar anaknya bisa berekreasi di situ. Bisa mendengarkan musik, bisa mendengarkan anaknya belajar, kan keren," ujar Maestro Keroncong Indonesia itu kepada RMOLJabar di kediamannya, Sukmajaya, Depok, Rabu (28/11).

Kegiatan belajar di TMD 100 persen gratis, alias tidak dipungut bayaran. Untuk keperluan transport para pengajar TMD mendapat bantuan dari Disporyata Kota Depok dan beberapa donatur. "Peran pemerintah mendukung, bahkan alatnya juga dibelikan. Seperti ada gitar, dulu kita gak punya, akhirnya dibelikan. Terus juga ada beberapa donatur dan relawan juga yang membelikan," paparnya.

Menurutnya, TMD berdiri juga untuk menjawab kegelisahannya akan banyaknya talenta-talenta berbakat di Kota Depok tapi memiliki keterbatasan, baik secara biaya dan waktu, karena bila mengikuti kursus di tempat lain membutuhkan dana yang tidak sedikit dan pelaksanaan sudah ditentukan harinya.

Kegiatan belajar di TMD berlangsung setiap hari Minggu dari pukul 8 sampai 11 siang. "Ada sabtu kadang, tapi yang pokok minggu. Karena sabtu anak-anak masih ada yang pada sekolah. Kalau minggu kan mereka daripada bermain bisa sambil belajar, bisa sambil bawa buku, orangtuanya bisa sambil belanja di situ. Kelebihannya kita lebih lunak, lebih berpihak pada anak," paparnya.

Di TMD siswa diajarkan dua hal, yakni akademis dan industri. Untuk akademis belajar cara membaca not, not angka dan not balok. Sedangkan industri siswa diberi pemahaman tentang aksi panggung dan lagu populer seperti yang dibawakan para pemusik yang sukses di ranah hiburan nasional dan internasional.

"Pengajarnya saya ajarkan gimana mengajarkan anak-anak gak hanya sekedar jrang jreng, tapi buktikan di Taman Musik ada pelajaran yang betul-betul akademis. Tapi masing-masing guru sudah punya target. Tapi saya konsep di sini bermain menjaga perasaan anak, bagaimana dia bermain dengan senang hati sambil dapat ilmu itu prinsipnya. Bukan seperti sekolah formal," Koko Thole menjelaskan.

Untuk urusan jumlah murid, keberadaan TMD cukup diminati, bahkan peserta didiknya pernah tembus 200 orang. Namun demikian, karena faktor "gratis" banyak pula yang keluar masuk dan belajar kurang serius. Tapi, ia tidak ambil pusing. Menurutnya, semua kembali lagi ke masing-masing anak. Bila serius mereka akan cepat mahir. "Makanya ada beberapa murid yang melampaui target dalam arti dia sebelum target sudah jadi. Bahkan sudah ada yang berani jadi instruktur," katanya.

Saat ini alat musik yang diajarkan masih sebatas akustik. Namun tidak menutup kemungkinan ke depannya akan ada alat-alat elektronik seperti keyboard yang diajarkan mengingat banyak yang tertarik mempelajari alat musik itu. TMD juga ingin membuka kelas flute, karena jarang ada orang belajar alat musik tiup tersebut.

Menurut Koko Thole, Indonesia kekurangan pemain flute. Alasannya, alatnya mahal dan flute tidak boleh dipinjam, karena digunakan pribadi. "Jadi kalau muridnya delapan ya harus punya delapan alatnya," ungkapnya

TMD juga mendapat respon positif dari pegiat musik tanah air. Bahkan pengamat musik Bens Leo pernah datang dan mengaku salut dan mengatakan TMD konsep pertama yang diterapkan di Indonesia karena belum ada taman musik gratis pengajarannya dan memiliki banyak murid.

"Bahkan banyak teman dari Pati, Demak, Jember pengen bikin. Mereka nanya gimana caranya. Ya sampean hubungan sama Pemda sampean. Tergantung kebijakan Pemda masing-masing," demikian Koko Thole. [rah]

Komentar Pembaca
Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Pemerintah Mau Amputasi KPK?

Pemerintah Mau Amputasi KPK?

SELASA, 11 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00