Pengusaha Lebih Pilih Produksi Beras Premium

Nusantara  SENIN, 12 NOVEMBER 2018 , 10:29:00 WIB | LAPORAN: HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengusaha Lebih Pilih Produksi Beras Premium

Ilustrasi/Net

RMOLKalbar. Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk mengevaluasi penggolongan jenis beras. Karena, penggolongan itu disinyalir menjadi penyebab rakyat kecil kesulitan mendapatkan beras murah (medium).
Pemerintah membagi be­ras ke dalam dua golongan. Yakni, jenis premium dan medium. Jenis premium yakni beras dengan kualitas lebih baik dari medium. Ciri beras premium antara lain lebih sedikit memiliki patahan. Berwarna lebih cerah, dan memiliki kandungan air lebih sedikit. Oleh karena itu, harga beras premium lebih mahal dari­pada medium.

Ketua Kontak Tani Ne­layan Indonesia (KTNA) Winarno Tohir menilai, harga beras medium mengalami kenaikan disebabkan pengusaha/petani penggilingan lebih tertarik memproduksi beras pre­mium.

"Tidak ada masalah den­gan stok beras di petani. Beras medium langka karena fakta di lapangan, penggilingan lebih memilih menjadi penyuplai beras premium daripada medium karena keuntungannya lebih besar," ungkap Winarno kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Pola pikir pebisnis beras, lanjut Winarno, berubah sejak ada penggolongan beras. Padahal, sebelum ada penggolongan, tidak ada yang seperti itu. Menurut­nya, keberadaan stok beras medium hanya mengan­dalkan bekas sortiran dari beras premium.

Namun demikian, Winarno berpandangan kelangkaan beras medium bisa dicegah dengan cara pemerintah melaku­kan penyesuaian harga beras medium dengan mempertimbangkan inflasi tahunan. Karena, saat ini harga beras belum berubah sejak 2015.

Sementara itu, Direk­tur Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayanti menilai, pasokan beras medium menurun bukan disebabkan peng­gilingan tidak mau mem­produksi beras medium. Tetapi, karena hasil panen tahun ini jauh lebih bagus.

"Sepanjang tahun ini, hasil panen cukup ba­gus. Kualitas beras petani memang premium," kata Tjahja.

Tjahya memastikan ke­langkaan beras medium bu­kan karena penggolongan beras. Menurutnya, persepsi terhadap kualitas beras jenis premium dan medium sudah ada di masyarakat sejak lama. Pemerintah melakukan penerapan harga eceran tertinggi (HET) ter­hadap dua jenis beras ber­tujuan untuk menjamin masyarakat mendapatkan mutu barang sesuai dengan nilai keekonomiannya.

Untuk mengatasi ke­langkaan saat ini, lanjut Tjahja, Pemerintah mela­lui Kemendag juga telah menugaskan Perum Bulog untuk menyalurkan beras medium dengan meng­gunakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) baik melalui mitranya, distribu­tor besar, dan secara lang­sung ke pasar eceran pada daerah yang mengalami kenaikan harga.

Seperti diketahui, harga beras jenis medium menga­lami kenaikan belakangan ini. Harganya sudah diatas HET pemerintah Rp 9.450 per kilo gram (Kg). Pemerintah mensinyalir beras medium langka karena ada pihak melakukan praktik curang. Yakni, mengubah beras medium menjadi pre­mium.

Direktur Utama PT Food Station Arief Prasetyo Adi mengatakan, menipisnya stok beras medium di pasar Cipinang telah terjadi sejak satu bulan lalu. Saat ini stok beras di Pasar Indiuk Beras Cipinang, 80 persen beras jenis premium. Hal ini pun menyebabkan kenaikan harga beras jenis medium dari sebelumnya Rp 8.700 per kilogram (kg) menjadi Rp 9.150 per kg. [rah/***]

Komentar Pembaca
Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Surya Paloh Tidak Menegakkan UU Pers

Surya Paloh Tidak Menegakkan UU Pers

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 13:00:00

Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00