Gara-Gara Hoax Membangun, Kepala Badan Siber Dibully

Ragam  KAMIS, 04 JANUARI 2018 , 08:31:00 WIB | LAPORAN: HARIAN RAKYAT MERDEKA

Gara-Gara Hoax  Membangun, Kepala Badan Siber Dibully

Mayjen Djoko Setiadi/Net

RMOL. Baru dilantik Presiden Jokowi di Istana Negara, kemarin, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi sudah bikin geger media sosial. Djoko mengeluarkan pernyataan "hoax membangun" yang bikin pegiat dunia maya melongo. Gara-gara itu, Djoko dibully.
Ceritanya begini, usai dilantik Presiden, Djoko menyampaikan akan turut berperan membasmi hoax yang banyak bertebaran di media sosial. "Tentu hoax ini kita lihat, ada yang positif dan negatif. Saya imbau kepada kawan-kawan, putra-putri bangsa Indonesia ini, mari sebenarnya kalau hoax itu hoax membangun ya silakan saja," kata Djoko. "Tapi jangan terlalu memprotes lah, menjelek-jelekkan lah, ujaran-ujaran yang tidak pantas disampaikan, saya rasa pelan-pelan dikurangi," imbuhnya.

Djoko memastikan, tahun politik 2018 dan 2019, BSSN akan melakukan berbagai upaya untuk mengkondisikan suasana di area siber betul-betul tenang dan aman. Dengan begitu, pesta demokrasi bisa berjalan dengan sehat, baik dan menghasilkan pemimpin terbaik. Akan ada sanksi tegas kepada orang-orang yang terus menyebar hoax di dunia maya. BSSN akan bekerja sama dengan lembaga terkait mulai dari Badan Intelijen Negara (BIN), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) serta Polri. "Akan ada tindakan, nanti kita ingatkan supaya berhenti, tidak dilanjutkan. Tapi kalau nanti dia semakin menjadi-jadi ya nanti ada aturannya," tegasnya.

Dia meyakini, dengan diubahnya Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) menjadi BSSN, kinerja lembaga ini akan semakin baik. Tak hanya perubahan nama, tapi juga ada perubahan struktur dan tugas. Selain itu, dalam amanatnya, diterangkan Djoko, Presiden meminta BSSN melakukan pengamanan siber hingga tingkat privat. Pengamanan tidak hanya ditujukan untuk instansi pemerintah dan BUMN. "Beliau mengarahkan bahwa kemampuan ini di samping untuk instansi pemerintah, ke BUMN juga ke privat. Bahkan ke warga negara," tandas Djoko.

Sampai tadi malam, tanda pagar#HoaxMembangun masuk dalam trending topic Twitter Indonesia. Banyak yang mem-bully Djoko karena pernyataannya. Yang paling banyak, netizen berusaha menjabarkan hoax membangun dengan memberikan contoh-contoh lucu. "Mbak Aul, kamu gak gendut kok, cuman agak chubby#HoaxMembangun," cuit @senaersania. "Kamu terlalu baik buat aku. Kita sahaban saja," cuit @ ArintaMeyta.

"Tidak ditemukannya bekas kabel telepon di jaman kerajaan Nusantara membuktikan bahwa telepon nirkabel sudah digunakan sejak dulu di Indonesia#HoaxMembangun," cuit @ ko2w disambut @nay_shihab yang membagi hoax dalam khasanah Islam. "jika demikian. Mulai sekarang hoax akan dibagi jadi 3 kategori. 1. Hoax hasanah. 2. Hoax dholalah. 3. Hoax bid’ah," kicaunya.

Akun @republink1 menyindir pedas. "Mantan Presiden Indonesia H.M Soeharto mendapat julukan Bapak Pembangunan. Kalau Rezim zaman now dikenal sebagai Bapak #HoaxMembangun hahaha. Kabur takut diciduk." Akun @Fifewx heran. Gak habis pikir sama tujuan dibuatnya hoax membangun untuk apa? Kebanyakan hiax sih pemerintahnya juga. Nanti kalau ada kasus apa apa senjata ampuhnya hoaz membangun. Hahaha Indonesiaku," kicaunya. Akun @RifaiDarusM ikutan. "Lucu. Hoax ya hoax. Berita tidak benar ya berita tidak benar," kicaunya, senada dengan @Shambazy. "Maaf Pak, ga ada hoax yang positif atau membangun. Hoax is hoax," cuitnya.

Setelah ribut di media sosial, Djoko meluruskan soal hoax membangun ini. "Ya tentunya yang membantu memberikan masukan, ide, saran pada pemerintah. Yang bersifat konstruktif. Ya makanya, justru kabar tidak benar itu kan penalaran kita kira-kira sifatnya apa, kan bisa kita lihat. Kalau menjatuhkan pemerintah, ujaran tidak baik, itu yang kita larang, kita redam. Kalau hoax yang sifatnya positif, yang mengkritik, itu saya rasa tidak apa-apa. Sharing sifatnya. Dan memang hoax itu konotasinya negatif, tapi ada juga yang positif," ungkapnya.

Lalu apa contoh hoaks positif? Djoko menjawab begini. "Misalnya di Jakarta kan lagi banyak pembangunan jalan untuk infrastruktur. Jalan ditutup warga bingung mau lewat mana. Dari pihak pemerintah yang berwenang tidak ada solusi, jadi menimbulkan kemacetan kan. Kalau mau belok, berputar jauh sekali. Nah ini kalau dikritik berarti sifatnya membangun. Supaya kita mencari solusi sehingga tidak terjadi kemacetan di mana-mana," terangnya. [***]



Komentar Pembaca
Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00