Sekolah Harus Jadi Pusat Pembudayaan Nilai Toleransi

Budaya  RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 09:19:00 WIB | LAPORAN:

Sekolah Harus Jadi Pusat Pembudayaan Nilai Toleransi
RMOL. Sejumlah kekisruhan yang merebak di sejumlah wilayah di Indonesia merupakan akibat dari rendahnya kesadaran, dan wawasan multikulturalisme atau kemajemukan sebuah bangsa.
Begitu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mempawah, Mochrizal saat membuaka kegiatan pengembangan multikulturalisme yang diadakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, di Wisata Nusantara Resort Mempawah.

"Karena itu, pemerintah saat ini mencari terobosan, yaitu dengan strategi menjadikan sekolah sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai multikulturalis," kata Mochrizal dalam keterangan, Rabu (8/11).

Menurutnya, multikulturalisme bisa ditransfer ke dalam pembelajaran bercorak multikultural. Hal itu merupakan upaya penyadaran terhadap adanya keanekaragaman. Sekaligus membiasakan untuk memperlakukan setiap etnis, budaya, dan agama yang berbeda secara egaliter.

Siswa, ujar Mochrizal, diberi penguatan agar bisa mentransformasikan pengalamannya yang subjektif ke pengalaman dengan subjektivitas ganda.

"Bagaimana pengalaman-pengalaman pribadi untuk didialogkan bersama-sama mencari titik temu. Kita berharap kegiatan ini bermanfaat bagi generasi muda dalam memahami kemajemukan dan kebinekaan," kata dia.

Kepala Bidang Kewaspadaan dan Penanganan Konflik Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kalimantan Barat, Tarmizi Samad mengatakan, kegiatan pengembangan multikulturalisme adalah bentuk dukungan atas upaya pemerintah mencegah dan meminimalkan potensi konflik antar-etnis sebagai akibat kegagalan memahami konsep bineka tunggal ika.

Pihaknya ingin memberikan pengetahuan tentang perbedaan dan persamaan, termasuk hal-hal positif yang dimiliki suku-suku bangsa khususnya di Kalimantan Barat.

"Kita hendak menumbuhkembangkan sikap toleransi dalam kehidupan sosial yang didasarkan pada pengakuan dan penghargaan terhadap keberagaman asasi yang ada," tutur dia.

Tarmizi menerangkan, metode yang digunakan dalam kegiatan adalah diskusi aktif para peserta dalam bentuk sub-sub kelompok. Metode itu dipilih guna memberikan ruang kepada para pelajar menyampaikan pendapatnya melalui musyawarah, mufakat, dan pemahaman terhadap perbedaan pola pikir yang dimiliki orang lain terhadap suatu masalah. Adapun narasumber kegiatan, ia mengungkapkan, berasal dari akademisi, praktisi, dan tokoh masyarakat yang berasal dari suku bangsa yang berbeda di masing-masing kabupaten/kota.

"Kegiatan ini terlaksana melalui kerja sama Badan Kesbangpol Kalimantan Barat dengan unit kerja atau instansi pelaksana fungsi Kesatuan Bangsa dan Politik di lingkungan pemerintah kabupaten/kota," katanya. [ipk]

Komentar Pembaca
#PolitisiOnTheRoad: Menggugat Surya Paloh Karena Sayang
BENANG MERAH (EPS.162): Pilpres Atau Adu Jangkrik?

BENANG MERAH (EPS.162): Pilpres Atau Adu Jangkrik?

JUM'AT, 16 NOVEMBER 2018 , 19:00:00

Ma

Ma"ruf Amin Dilaporkan Ke Bawaslu

JUM'AT, 16 NOVEMBER 2018 , 13:00:00

Pameran Wisata

Pameran Wisata

JUM'AT, 05 AGUSTUS 2016 , 15:25:00

Salam Komando

Salam Komando

KAMIS, 17 AGUSTUS 2017 , 18:24:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 13:32:00